3 Alasan utama DAIKIN Ekspansi Menggarap Pasar Residensial (non Corporate)

Tahukah Anda bahwa Air Conditioner (AC) adalah penyumbang tagihan listrik terbesar? Jika tidak percaya, coba perhatikan billing dari PLN di rumah Anda yang memiliki pendingin ruangan. Namun, kini Anda tidak perlu khawatir setelah ditemukan teknologi inverter. Teknologi canggih di AC itu mampu menghemat pemakaian listrik hingga 50%.

Selain hemat energi, manfaat teknologi inverter adalah dingin ruangan lebih cepat. Temperatur ruangan dapat dicapai 1,5 kali lebih cepat ketimbang AC biasa. Pun, kontrol kekuatan bersifat fleksibel. Pada saat kekuatan maksimun, suhu ruangan akan lebih dingin dan saat kekuatan minimum suhunya memberikan kenyamanan penghuni ruangan.

Tidak kalah pentingnya, AC inverter ini adalah jawaban atas maraknya isu ramah lingkungan, global warming, krisis energi dunia, serta keterbatasan lahan di wilayah perkotaan.

Apa itu inverter? Inverter adalah komponen di dalam unit AC yang berfungsi untuk mengatur kecepatan motor listrik. Alat ini terdiri dari rectivier dan pulse-width modulator, sehingga motor listrik menjadi variable speed, kecepatannya bisa diubah-ubah atau di-setting sesuai dengan kebutuhan.

Nah, kehebatan teknologi inverter itulah yang kini diusung oleh produsen AC untuk bersaing. Masing-masing merek berlomba meluncurkan produk AC inverter. Mulai dari Jepang (baik impor maupun yang membangun pabrik di Indonesia) ada merek Daikin, Sharp, Sanyo, Panasonic, Toshiba, plus Mitsubishi. Negeri Ginseng pun tak mau ketinggalan dengan merek LG dan Samsung. Begitu halnya Cina menyesaki pasar dengan merek Haier, Changhong atau merek lain yang kurang terkenal.

Dari sekian banyak produsen AC tersebut, Urip Sugiono mengklaim, Daikin adalah pelopor penggunaan teknologi inverter. “Daikin mengaplikasikan teknologi inverter pada AC sejak 12 tahun lalu,” kata CEO PT Daikin Aircorn Indonesia (DAI), agen tunggal pemegang lisensi AC merek Daikin di Indonesia. Hanya saja, waktu itu masih digunakan untuk AC berkapasitas di atas 1 PK. Ini sesuai target pasar Daikin kala itu yang fokus membidik segmen pasar komersial dengan produk AC 3-10 PK seharga Rp 16-40 juta per unit, yaitu gedung pencakar langit, perkantoran, perhotelan, pabrik, pusat perbelanjaan atau proyek komersial lainnya. Ia mencontohkan ruang rapat kabinet masa pemerintahan Presiden Soeharto dulu menggunakan AC Daikin. Karena pelopor AC made in Japan yang sudah penetrasi duluan di Indonesia, Daikin waktu itu harus berkompetisi dengan AC buatan Amerika Serikat, yaitu merek Carrier dan General Electric.

Baca Juga:  Model dan Harga AC DAIKIN

Baru-baru ini Daikin juga merilis AC untuk residensial. AC baru yang diluncurkan dengan kekuatan 1/2 PK dan 3/4 PK. ”AC Daikin dengan menggunakan teknologi inverter dan Reluctance DC Motor memiliki coefficient of performa (COP) tinggi. Makin tinggi nilai COP, makin efisien, sehingga konsumsi listrik bisa hemat sampai 40%,” jelas Urip yang merintis masuknya Daikin ke Indonesia sejak tahun 1970-an.

Mengapa Daikin ekspansi ke pasar non korporat? Menurut Urip, ada tiga alasan utama. Pertama, pasar AC di Indonesia termasuk unik di dunia, lantaran permintaan terhadap AC berkapasitas kecil itu cukup tinggi. Tidak mengherankan bila produksi AC di bawah 1 PK cuma ada di Indonesia, sehingga Daikin ikut terbawa arus. Kedua, penjualan AC kapasitas kecil makin menarik seiring dengan penurunan bea masuk dalam kerangka perdagangan bebas Asean (AFTA) dan perdagangan bebas Asean-China (ACFTA). Alhasil, penurunan pajak penjualan barang mewah [PPnBM] produk elektronik juga membuat harga AC makin terjangkau. Ketiga, tren pertumbuhan properti yang pesat, sehingga kebutuhan AC untuk perumahan sangat besar. “Seringkali klien korporat yang membeli AC di atas 3 PK juga menanyakan kapan Daikin memproduksi AC 1 PK ke bawah untuk proyek apartemen atau perumahan mereka,” ujar Basuki Afandi Sugiarto, Assistant to President Director DAI, menambahkan.

Kendati potensi pasar AC ritel sangat besar, diakui Basuki, pihaknya harus melakukan subsidi silang untuk biaya produksi AC di bawah 1 PK. Maklum biaya produksi AC 1/2PK, ¾ PK atau 1 PK hampir sama besarnya, tapi konsumen menuntut harga lebih rendah. Toh, bukan berarti Daikin banting harga, karena harga AC Daikin ½ PK dan ¾ PK berkisar Rp 4 juta.

Sejatinya harga AC inverter yang dipatok Daikin tak jauh beda dengan kompetitor di angka Rp 4 jutaan. Betul, konsumen mesti investasi di awal lebih mahal untuk mendapatkan AC inverter, karena AC konvensional ½ PK dan ¾ PK di harga Rp 3 jutaan. Namun, pada gilirannya AC inverter mampu menghemat tarif listrik yang diperkirakan menyusut Rp 1000 tiap harinya.

Baca Juga:  Pengiriman AC Daikin Split Wall dan Inverter

Melalui produk AC inverter, Daikin berharap nantinya brand awareness tidak hanya kuat di komersial saja, melainkan juga pasar ritel. Untuk itu, Urip optimistis dengan peluncurkan AC inverter ½ PK dan ¾ PK bakal mampu mendongkrak penjualan hingga 20%. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan pasar AC nasional di angka 10%. “Kami optimistis mampu mencapai target itu dengan kekuatan merek Daikin yang sudah lama bermain di pasar AC dan kami memiliki basis pelanggan loyal. Walaupun begitu, kami akan terus berinovasi dengan teknologi terkini,” Urip menegaskan.

Ya, meski merek sudah terkenal, inovasi tetap harus dijalankan. Pasalnya, tuntutan konsumen terhadap merek elektronik lokal maupun global adalah: desain, teknologi dan fitur dengan jaminan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau memang tidak bisa memenuhi kualifikasi itu, sudah pasti merek atau produk tersebut bakal ditinggalkan konsumen. Dan faktor yang paling menentukan dari reputasi merek adalah daya serap masyarakat terhadap produk tersebut. Jika penjualan produk itu meningkat, berarti mereknya berhasil diterima pasar.

Agus W. Soehadi menambahkan, dalam mengelola merek, yang penting adalah dua hal. Pertama, bagaimana membuat produk/jasa ini mempunyai nilai tinggi di mata target pelanggannya, sehingga konsumen tertarik membeli produk itu. Kedua, bagaimana membuat konsumen memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap merek tersebut sehingga loyal. “Ikatan emosi terbentuk jika konsumen menganggap merek tersebut tidak hanya memberikan solusi terhadap kebutuhan dari sisi fungsional, tetapi juga dari sisi emosional. Misalnya pengembangan program-program relationship dengan konsumen,” jelas pengamat bisnis dari Prasetiya Mulya Business School, itu.

Khusus produk AC, tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan after sales service hingga ke daerah-daerah. Maklum, apa gunanya jika AC yang sudah dibeli itu tidak dapat diperbiki jika kelak rusak. Sungguh, bukan pekerjaan mudah agar penjualan AC bisa sukses. Dibandingkan produk elektronik lain, untuk memuaskan konsumen AC, tak cukup dengan kualitas bagus. Perusahaan juga harus siap memberi sejumlah kemudahan, termasuk dalam hal pengoperasian dan instalasi. Setelah dibeli, AC tidak bisa langsung digunakan tapi harus diinstal terlebih dahulu. Nah, Daikin harus menyiapkan banyak teknisi AC yang terampil. Mereka bisa memberikan layanan pelatihan gratis tentang cara instalasi AC bagi para teknisi yang dimiliki dealer.

Baca Juga:  Perawatan AC Daikin di Dealer Yamaha

oleh : Eva Martha Rahayu
source: SWA

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.